6.18.2011

Installing a Simple and Good CCTV Power (Part 1)

Power Camera
Secara umum camera CCTV menggunakan salah satu dari 3 (tiga) jenis power supply, yaitu:
1. Tegangan 220VAC 
2. Tegangan 24V AC
3. Tegangan 12V DC



Camera 220VAC
Camera 220VAC memiliki ukuran besar, karena power supply-nya diletakkan di bagian dalam. Sebelum ditemukan power supply switching camera "tempo dulu" umumnya berukuran raksasa, karena memakai transformer konvensional yang memerlukan spasi besar. Camera masa kinipun masih ada yang menggunakan sumber 220VAC, umumnya dari jenis standard camera. Camera 220VAC lebih praktis, karena tidak memerlukan adaptor tancap (plug-in) yang notabene bisa mengganggu estetika ruangan jika adaptor ini dipasang secara "outbow". Adapun kekurangannya adalah bentuknya yang besar dan sedikit sekali  (bahkan hampir tidak ada) yang berjenis dome. Selain itu, karena rangkaian power supply-nya berada di dalam, maka faktor panas perlu mendapat perhatian. Jadi diperlukan rangkaian yang benar-benar efisien supaya panasnya tidak mengganggu komponen lain di dalam casing. Camera 220V biasanya menggunakan supply dari jenis switching.

Camera AC tidak memerlukan analisa bagaimana mendistribusikan powernya, sebab tegangan 220V bisa merambat pada kabel listrik dalam jarak yang cukup jauh tanpa khawatir drop. Bahkan dapat dikatakan, untuk camera AC tidak ada isu mengenai drop tegangan pada kabel, kecuali isu sumber tegangan 220V-nya yang tidak stabil (naik-turun).

Keunggulan:
- Praktis dan instalasi tidak ribet.
- Tidak khawatir terjadi loss pada kabel.

Kerugian:
-Bentuknya besar.
-Jarang yang berjenis dome.
-Faktor panas.
-Kerusakan pada bagian power supply akan mencopot semua unit.
-Memerlukan lubang besar untuk memasukkan steker listrik ke dalam plafon.
-Resiko shock-hazard (kesetrum) lebih besar.

Camera 24VAC
Tegangan 24V banyak dipakai pada camera Speed Dome dan beberapa tipe standard lainnya. Dibandingkan dengan 220V, tegangan 24VAC ini sebenarnya tidak "menyengat", sehingga resiko shock-hazard relatif tidak membahayakan. Camera jenis ini memerlukan transformer (trafo) 24VAC yang bentuknya cukup besar seperti terlihat pada gambar di bawah (kiri). Trafo ini hanyalah step-down dari 220VAC menjadi 24VAC yang tidak memerlukan  rangkaian apa-apa. Dengan demikian, trafo 24V/5A biasa yang ada di pasaran lokalpun dapat dipakai (seperti gambar sebelah kanan).


Kerugian:
- Trafo yang terpisah menimbulkan persoalan dalam penempatan.
- Tegangan 24VAC tidak bisa "berdampingan" dengan data RS485 dalam satu kabel. 
- Tegangan output trafo (24VAC) dipengaruhi oleh bagus-tidaknya tegangan listrik 220VAC.
- Trafo yang panas menyebabkan tegangan dan supply arus trafo menjadi berkurang.

Keuntungan:
- Drop tegangan pada kabel terbilang masih kecil.
- Resiko shock hazard pada kabel power camera hampir tidak ada. 

Camera 12VDC
Inilah topik bahasan kita yang sebenarnya. Camera masa kini umumnya memakai tegangan 12VDC, sehingga lebih kompak dan berukuran kecil. Selain itu, faktor panas tidak menjadi isu penting lagi, karena power supply-nya berada di luar. Namun, manakala sumber listrik dan camera terpisah pada jarak yang berjauhan, maka isu drop tegangan menjadi penting. Oleh  sebab itu perlu upaya agar power 12VDC tetap terpelihara dan dapat didistribusikan secara merata. Untuk itulah perencanaan power distribution menjadi hal penting.


Keuntungan:
- Harga camera biasanya lebih ekonomis.
- Bentuk camera kompak (kecil).
- Harga adaptor 12V relatif murah.
- Tidak ada resiko shock-hazard.
- Kerusakan power supply tidak mencopot unit, tinggal mengganti adaptor.
- Tidak ada isu panas.
- Adaptor regulated tetap stabil pada beban dan tegangan listrik yang naik-turun.


Kerugian:
- Loss tegangan pada kabel sangat signifikan.
- Tegangan output adaptor tancap sangat "pas-pasan".
- Adaptor tancap memerlukan stop kontak berlubang banyak (satu camera satu adaptor).
- Kabel adaptor "keleweran" di belakang camera.


(To be continued)

Tidak ada komentar: